siAbang

Iman

Posted in Agama, kontemplasi by ichan on Januari 19, 2010

Saya sependapat dengan Goenawan Mohammad tentang iman. Iman adalah sebuah obor, obor yang menemani sebuah perjalanan panjang. Ada masanya dimana obor itu tegak menerangi jalan gelap berliku dan bercabang, dan ada pula masa dimana ia goyang meredup tertiup angin. Dan ketika ia mati, itulah masa dimana kita mati dan mengakhiri perjalanan.

Bagi saya, iman bukan sebuah dinding, lebih-lebih benteng kukuh untuk menghalangi dan menolak semua perbedaan. Bermusuhan dengan yang berbeda bahkan memusnahkan keberbedaan hanyalah nafsu kekuasaan belaka, sedikitpun bukan iman. Kekuasaan seperti ini yang membuat manusia sebenarnya hanya menyembah Tuhan yang diperkecil. Menjauhkan Dia dari hakikatNya sebagai Yang Maha, membuatNya diposisikan sebagai berhala yang diberi ornamen tahta singgasana surga. Kemudian diperdagangkan dengan stempel agama-agama dan seperti halnya produk dagang MLM, diberi janji surga bertingkat-tingkat untuk tiap poin-poinnya. Sungguh tragis.

Bagi saya, iman adalah perjalanan spiritual kritis. Sebuah pencarian bukan pendefinisian, karena Tuhan tak terdefinisikan, seperti Musa pernah berkata, “Tuhanku adalah Semesta, Tuhan dari timur dan barat, dari semua yang ada diantaranya”. Pada dasarnya, monoteisme mengajarkan pada kita tentang Tuhan yang tak terdefinisikan. Karena itu Sang Nabi tak pernah mengajarkan yang lain selain Allah itu sendiri.

Kenapa hanya “Allah”?
Secara etimologi, Allah sama dengan Tuhan, dari unsur Al-ilah kebentuk Al-lah lalu Allah (sumber : mbah wikipedia). Seperti halnya sama dengan yang diucapkan monoteis lain sebelum islam, bahakan politeis arab pra-islam. Allah, bukanlah milik islam semata seperti yang selama ini pada perjalanannya dikuasai oleh islam, Ia mewakili iman mono dan politeisme. Ia adalah “Al-Haqq”, “ankar al-nakirat”, “yang paling tak dapat ditentukan dari semua yang tak dapat ditentukan” (ibnu Arabi).

Menjadi ironis ketika ada pihak yang berkata, “Allah adalah milik Islam, Tuhan dari orang Islam”, seolah Islam datang dengan membawa definisi baru, memperkecilNya lagi kedalam sesaknya definisi-definisi yang telah ada. Seolah “Allah” belum pernah dipakai oleh sebelum mereka. Kemudian tiap-tiap monoteis mulai membeda-bedakan Tuhan, mirip yang diutarakan Nietzsche dalam Zarathustra sebagai Tuhan yang cemburu, seakan Tuhan islam, kristen, yahudi dll sedang bersaing. Dan Nietzsche boleh sombong mengetahui ini.

Pada zaman ini, ternyata iman sedang diperdagangkan di pasar malam. Bersaing dengan gemerlap modernitas untuk berlomba siapa yang lebih unggul, siapa yang lebih berkuasa. Agama sedang kehilangan jati diri sampai-sampai harus turun ke jalan, menutup ruang gerak dan mempertontonkan sebuah majelis Tuhan. Iman tidak lagi ditempatkan didalam hati, didalam sanubari terdalam manusia, tetapi hanya sebagai peci, gamis, sorban dan asesoris tubuh lainnya untuk menutupi ketelanjangan moral dan kebodohan akal. Iman ketika jatuh ketanah ternyata hanya meninggalkan sampah yang berserakan disepanjang jalan yang dilaluinya.

Tragis rasanya, manusia karena ketidakmengertiannya, atau yang mengerti tapi mengakali yang tidakmengerti, mengkampanyekan perbedaan atas nama Tuhan. Membuat benteng tinggi berikut mortir-mortir untuk memisahkan dan memusnahkan yang beda. Membuat sesuatu seakan-akan benar, kemudian jatuh ke tanah dan menjelma menjadi kekuasaan. Kami yang benar dan berkuasa. Apakah ini yang diinginkan Sang Nabi? saya rasa tidak, agh.. mungkin memang kita terlalu dangkal dan takut untuk menyelam.

Dan pada akhirnya bagi saya, iman adalah obor dalam perjalanan spiritual saya yang kritis.

kemang raya, malam tahun baru 2010

*damn.. ternyata udah setaun ini blog ga diapdet.. parah..

Iklan
Tagged with: ,

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. qzink666 said, on Januari 21, 2010 at 6:24 pm

    Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.(QS Al-Bayyinah: 6.)

    Tuh kan kenapa Tuhan menjadi begitu ekslusif bagi agama tertentu. Karena kitab suci sendiri memang menyediakan begitu banyak rujukan yang bagi orang-orang macam Wahabi bisa dijadikan sebagai senjata yang haus darah.

  2. qzink666 said, on Juli 19, 2010 at 3:55 pm

    Apdeeeeeeeeeettt woiiiiiiiii…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: